Langsung ke konten utama

Kurak Kariak dalam sisi lain Nagari

Sudah lama tak menulis tentang pertambangan rakyat, Setelah lima tahun lebih tidak melihat sisi lain yang ada dalam nagari. Beberapa hari yang lalu bersama tuntunan dari sebuah tugas akhir saya pulang ke kampung halaman. ada yang sisi lain yang ditemukan. bila kita melihat dari sisi hukum ini memang menyalahi aturan tapi bila melihat dari sisi hidup ini hanya bagian dari cara untuk menjalani hidup dan tetap bertahan di tengah kehidupan yang makin hari makin keras. Adasedikit harapan dan senyuman yang memang harus kita perjuangkan untuk masa depan.

Gambar ini bercerita tentang sisi lain pertambangan emas rakyat, ada banyak hal yang tidak diketahui. 


Lapisan Tanah yang mengandung emas

Kurak kariak (istilah lain dalam mencari tanah yang mengandung emas)

Mandulang Ameh ( Mendulang Emas)

Jae (dulang emas Tradisional)

 Mengais Tanah 

Ameh dan Kalam (Emas dan Serbuk Besi)


ada banyak yang menggantungkan kehidupan dari pertambangan emas rakyat, hanya demi dapur tetap berasap, anak tetap bersekolah dan hidup tetap berjalan. Kurak kariak merupakan istilah yang digunakan masyarakat yang akan mengambil tanah yang mengandung emas dan kemudian didulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jae (dulang emas palangki)

"Jae", suatu kata yang tidak aneh lagi di masyarakat palangki. Jae merupakan alat mencari emas yang berbentuk lingkaran seperti kuali terbuat dari kayu. kegiatan penambangan emas dengan mengunakan jae sudah dilakukan semenjak lama. Tidak diketahui pasti sejak kapan orang palangki menggunakan jae,yang jelas sudah berabad-abad silam. "potret seorang anak yang sedang meletakan jae di atas kepala" sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak umur sekolah dasar, setelah pulang sekolah pergi mendulang emas kesungai untuk mendapat uang jajan yang lebih dan membatu orang tua

Sabulan di Rumah

12/06/2018 Selamat Sore,,, Hari ini memasuki hari ke 27 ramadhan 1439 H. Sudah sebulan saya berada dirumah pasca menyelesaikan studi. Banyak yang bertanya-tanya kenapa saya belom juga bekerja, pertanyaan masyarakat yang memang agak sulit dijawab dengan penjelasan singkat. Sudahlah, saya hanya memilih diam dan tersenyum. (Manakiak di Polak Gota = Menyadap Karet di Kebun) Sebenarnya ada banyak tawaran kerja yang datang ataupun melanjutkan studi S2, tapi saat ini saya memilih berhenti sejenak. Kembali mengevaluasi diri dan merencanakan apa yang harus saya saya lakukan. Tidak banyak yang tau selama 8 tahun, ini lah waktu saya paling lama berada dikampung. Saya memilih menghabiskan waktu bersama keluarga sembari memperbincangkan apa yang menjadi tujuan dan rencana hidup saya selanjutnya. Karena sejatinya hidup ini bukan hanya milik kita sendiri tapi adalah milik orang yang mencintai kita. Saat ini bertepatan dengan bulan ramadhan, dimana saya bisa kembali mengupgrade iman.

Cerita di Tanjung Beringin (Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil).

Pada hari kamis tanggal 17 April 2019 saya berangkat meninggalkan ibukota Jakarta menuju Kota Pontianak Kalimantan Barat. Ketika kebanyakan pemuda sebantaran saya sibuk dengan Pemilu 2019, saya bersama 45 orang pemuda lainnya berangkat menuju pelosok sisi terdalamnya Indonesia. Yah, sebut saja kami meninggalkan kemewahan yang menjadi kebutuhan para milenial. Setelah 2 hari di Pontianak, koordinasi dengan Dinsos Kalimantan Barat saya melanjutkan perjalanan menuju Kota Ketapang. Jaraknya hampir mencapai 530 KM. Katanya sih cukup jauh jika ditempuh dengan  jalur darat dan alhasil saya memutuskan menempuh jalur udara. Sesampai di Ketapang saya dijemput oleh Pak Japani Staf Dinsos Ketapang. S elanjutnya diajak kerumahnya. Rumah itu menjadi rumah kedua yang saya tempati di Kalimantan Barat setelah sebelumnya saya menginap dirumah Bu Eka Kasi KAT Dinsos Kalimantan Barat. Sejenak saya merasakan sebuah kehangatan keluarga baru, saya diterima sebagai seorang anak laki-laki yang baru pulang dari